Pengujian Mikrobiologi
Untuk mengetahui secara pasti dan akurat bakteri yang terkandung dalam air dan hewan pada budidaya perairan. Klick Untuk Cek Harga dan Lama Pengujian
Pengujian Biologi Molekuler
Untuk mengetahui secara pasti dan akurat virus yang terkandung dalam ikan ataupun udang. Klick Untuk Cek Harga dan Lama Pengujian
Pengujian Kualitas Air
Untuk mengetahui secara pasti dan akurat kualitas air pada budidaya perairan. Klick Untuk Cek Harga dan Lama Pengujian
Cara Mengambil Sampel Air
Pengambilan sampel air yang baik dan benar agar memperoleh hasil pengujian yang tepat dan valid.
Penyimpanan Sampel Air
Penyimpanan sampel air yang baik dan benar agar sampel tidak rusak.
Kamis, 13 April 2023
Streptococcosis
1. Definisi/Faktor Pendukung
Stretococcus iniae, S. agalactiae, Streptococcus sp. [1,2]. Streptococcus iniae berukuran 0,3-0,5µm, gram positif, anaerobic facultative, dan berantai. Pada penyakit streptococcosis, kebanyakan yang terisolasi adalah S. iniae, namun tidak menutup bakteri lain seperti S. agalactiae, S. dysgalactiae, E.seriolicida/L. garvieae, L. piscium dan Vagococcus salmoninarum [4]. Faktor lingkungan seperti padat tebar yang tinggi, tehnik budidaya yang buruk, fluktuasi suhu, tingginya kadar ammonia, DO, pH (>8), salinitas, dan adanya infestasi ektoparasit dapat menimbulkan perubahan patofisiologi dan memicu infeksi Streptococcosis [3]
2. Gejala Klinis
Gejala klinis infeksi streptococcus cukup bervariasi antar spesies. Ikan yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala klinis warna tubuh menjadi lebih hitam, badan kurus dengan perut melengkung ke atas (curving), mata menonjol dengan warna keputih-putihan (opaque) baik unilateral maupun bilateral, serta berenang berputar-putar [1,2]. Lesi hemoragi kerap teramati pada operculum dan dasar insang. Lesinya lebih ke bagian superficial dibandingkan infeksi pada furunculosis dan vibriosis [2]. Pada infeksi S. agalactiae, pengamatan postmortem teramati cairan penuh darah pada rongga abdomen, limpa merah dan membengkak, hati memucat dan besar, juga teramati peradangan hati dan ginjal. Pada beberapa kasus gejala klinis Streptoccosis tidak begitu mencolok [3].
3. Pencegahan dan Pengendalian
Pengobatan yang ideal adalah dengan antibiotik. Umumnya erythromycin 25-50mg/kg BB selama 4-7 hari dapat digunakan [2]. Antibiotik lain seperti amoxicillin, oxytetrasiklin, enrofloxacin, dll dapat digunakan namun keberhasilannya bervariasi [5]. Namun oleh karena pembatasan penggunaan antibiotik maka pencegahan menjadi pilihan utama dalam pengendalian penyakit ini. Aplikasi vaksin dapat melalui oral maupun suntik [1]. Upaya pencegahan dari infeksi streptococcus adalah menghindari terlalu padat, pakan berlebih, dan proses transportasi serta handle yang tidak sesuai. Ikan yang mati sebaiknya diambil untuk dieradikasi [2]. Beberapa jenis probiotik telah diujicobakan mampu meningkatkan kelangsungan hidup pada ikan yang terinfeksi Streptococcus [3]
Referensi
[1] Supriyadi, H. 2013. Streptococcosis pada Ikan Nila. Majalah INFHEM volume 2 no.2 Januari 2013.
[2] Lio-Po, G.D., C.R. Lavilla E.R. Cruz-Lacierda (Ed). 2001. Health Management in Aquaculture. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department: Iloilo
[3] Woo, P.T.K. dan Cipriano, R.C. 2017. Fish Viruses and Bacteria: Pathobiology and Protection. CAB International: UK
[4] Woo, P.T.K dan Bruno, D.W (Ed). 2011. Fish Diseases and Disorders, Volume 3: Viral, Bacterial and Fungal Infections 2nd Edition. CABi: UK
Glugeosis
1. Definisi/Faktor Pendukung
Glugeasis, Glugea disease [7]. Penyakitnya dapat disebut sebagai mikrosporidiasis. Akan tetapi, istilah microsporidia juga merujuk pada seluruh penyakit yang disebabkan oleh microsporidia. Penyebabnya Endoparasit, microsporidia Glugea [1] spesies Glugea anomala, Glugea stephani [5], Glugea herald [3]. Terjadi apabila Buruknya nutrisi dan kualitas air memicu munculnya infeksi Glugea [3]
Pada insang teramati gambaran nodul dengan diameter dapat mencapai 2mm [1]. Nodul berwarna coklat putih serupa dengan kista [5]. Apabila nodul ini mengalami rupture, maka infeksi sekunder oleh bakter oportunis dapat terjadi [1]. Mukosa dinding usus besar ikan mengalami peradangan sehingga ikan kehlangan nafsu makan [7] lalu mengalami kehilangan berat badan dan perubahan bentuk tubuh [2]. Abdomen atau perut tampak membesar [3]. Infeksi yang disebabkan oleh Gluge anomala teramati sekitar 9 hari pasca infeksi. Parasit akan bereplikasi di kulit, belakang mata, dan organ lain. Pada ikan yang terinfeksi berat, ikan akan mengalami emasiasi kemudian mati [6].
Gb. Xenoma pada ikan Ayu (picture from http://fishparasite.fs.a.u-tokyo.ac.jp)
Tidak ada pengobatan yang efektif. Pencegahan lebih baik dilakukan [2]. Pencegahan dapat dilakukan dengan penggantian air, isolasi, pemusnahan ikan yang terinfeksi, disinfeksi sistem budidaya dengan klorin ataupun iodin, menghindari penggunaan pakan yang terkontaminasi [3]. Meskipun tidak ada pengobatan yang efektif, namun bahan seperti toltrazuril (30mg/L perendaman 60 menit diulang selama 3 hari berturut-turut) dan fumagillin (0,1% fumagillin dalam pakan) dapat dipertimbangkan [4]. Pemberian toltrazuril menyebabkan hancurnya semua stadium parasit dan secara keseluruhan menurunkan prevalensi serta intensitas infeksi microsporidia. Penggunaan fumagillin harus diperhatikan sebab untuk jangka panjang yang ditemukan pada salmon akan menyebabkan anoreksia, kesehatan yang buruk, anemia, degenerasi tubulus ginjal, atrofi jaringan hematopoietic. Obat ini sulit larut dalam air namun larut dalam alcohol.vMonensin dapat digunakan untuk pencegahan. Sedangkan albendazole untuk pengobatan dimana quinie hydrochloride menunda pembentukan xenoma [6]. Pembasmian spora dapat dilakukan dengan pemberian germisida dosis tinggi. Klorin >100 atau 1500ppm dapat memberikan kematian spora >95% [5].
Referensi
[1] Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association
[2] Bassleer, G. 2004. Disease. in Marine Aquarium Fish: causes - development- symptoms- treatment 3rd Edition. Bassleer Biofish: Belgium
[3] Nagasawa, K. and E. R. Cruz-Lacierda (eds.) 2004: Diseases of cultured groupers. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department, Iloilo, Philippines. 81 p.
[4] Jepson, L. 2016. Exotic Animal Medicine A Quick Reference Guide 2nd Edition. Elsevier: Missouri
[5] Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
Vibriosis
1. Definisi/Faktor Pendukung
Ada 13 spesies vibrio yang dilaporkan menyebabkan penyakit pada ikan antara lain Vibrio alginolyticus, V. anguillarum, V. carchariae, V. cholerae, V. damsella (Photobacterim damsella), V. harveyi, V. ordalii, V. parahaemolyticus, V. mimicus, V. vulnificus, V. Salmonicida serta tiga spesies baru V. Ichthyoenteri, V. Splendidus, V. Pelagiius. Namun dari kesemuanya, hanya V. Anguillarum, V. Ordalii, dan V. Salmonicida yang paling banyak tercatat patogenesitasnya pada ikan [1]. Di antara berbagai spesies vibrio, paling banyak dilaporkan sebagai patogen ikan adalah V. Harveyi yang menyerang ikan laut, V. Alginolyticus yang menyerang ikan pada perairan hangat, dan V. Splendidus yang menyerang ikan laut di Eropa serta Selandia Baru [4]. Bakteri V. Anguillarum merupakan bakteri gram negatif, motil, batang, berukuran 0,5 x 1,5um [1]. Bakteri ini memiliki faktor virulensi antara lain faktor adhesi, kolonisasi, invasi, produksi eksotoksin, komponen permukaan sel, dan sistem uptake iron [3]. Vibriosis paling sering terjadi ketika musim panas, dimana suhu tinggi (kebanyakan) dan kadar oksigen rendah. Kepadatan yang tinggi atau higienitas yang buruk berkontribusi terhadap kejadian. Namun demikian, infeksi dalam jumlah rendah dapat terjadi tanpa perlu adanya stressor eksternal [1]. Bahkan beberapa strain tidak membutuhkan predisposisi stress untuk menimbulkan infeks [5]. iKejadian vibriosis pada ikan air tawar biasanya berkaitan dengan pemberian pakan mengandung kotoran ikan laut [2].
2. Gejala Klinis
Pada ikan flounder gejala vibriosis akut teramati dalam 12-48 jam pasca inokulasi dan mati dalam 2-4 hari. Gejala vibriosis kronis teramati dalam 1-4 hari dengan duari kematian/ sembuh 2-6 minggu [1]. Gejala klinisnya tidak spesifik [4]. Waktu inkubasinya bergantung pada suhu, virulensi strain, dan tingkat stress dimana ikan hidup Gejala utama vibriosis pada ikan salmon dan turbot muda meliputui anoreksia, menghitam, dan kematian secara mendadak. Dropsi abdomen dan/ periorbital mungkin saja terjadi. Pada ikan dewasa, outbreak dapat bersifat akut dan seringkali menjadi kronis. Pada fase akut, ikan mengalami pembengkakan, warna tubuh gelap, ulcerasi kulit hingga terdapat eksudasi. Ulcer dapat sangat dalam dan nekrosis. Pada pengamatan internal, limpa membengkak dan mengkeju. Pengkejuan ginjal dan petekie organ visceral juga teramati. Hemoragi fokal terlihat pada permukaan jantung dengan insang memucat [2]. Memucatnya insang menunjukkan adanya anemia yang berat [3]. Nekrosis hemoragika yang dalam teramati pada myotome. Pada infeksi kronis, lesi menjadi granulomatous. Insang pucat, hemoragi rongga abdomen menghasilkan adesi fibrinous di antara organ internal. Area mulut dan mata juga dapat terinfeksi [2]. Pada mata, lesi berupa edema kornea, ulcerasi, dan exopthalmia [6].
3. Pencegahan dan Pengendalian
Seleksi genetik terhadap ikan yang tahan vibrio menunjukkan resistensi yang cukup baik. Penggunaan heat shock dapat menurunkan kematian, namun penggunaan antibiotik menunjukkan hasil yang lebih baik. Antibiotik untuk penanganan vibriosis umum digunakan, akan tetapi hal ini hanya efektif jika ikan masih mau makan. Perkembangan untuk vaksin vibrio baik secara oral maupun perendaman sudah cukup efektif walaupun masih terjadi imunosupresi [2]. Bahkan seringkali formulasi vaksinnya multivalen [4]. Beberapa jenis probiotik juga mampu mengendalikan vibriosis. Probiotik yang mengandung Pseudomonas fluorescens, Aeromonas sobria, Bacillus sp dapat menghambat vibrio pada ikan rainbow trout dengan perendaman. Pemberian probiotik ke dalam air dan pakan juga cukup efektif. Probiotik yang diberikan melalui pakan juga cukup menjanjikan mengatasi vibriosis [3]. Disamping dengan pengobatan, perbaikan maanjemen seperti kualitas air serta meniadakan stress dapat menurunkan dampak vibriosis pada populasi ikan [4].
Referensi
[1] Plumb, J.A dan Hanson, L.A. 2011. Health Maintenance and Principal Microbial Diseases of Cultured Fishes Third Edition. Black and Wiley: Iowa
[2] Roberts, R.J (Ed). 2012. Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
[3] Woo, P.T.K. dan Cipriano, R.C (Ed). 2017. Fish Viruses and Bacteria: Pathobiology and Protection. CAB International: UK
[4] Smith, S.A (Ed). 2019. Fish Disease and Medicine. CRC Press: Boca Raton
[5] Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
Gyrodactyliasis
1. Definisi/Faktor Pendukung
Gyrodactylus.sp [1] Gyrodactylus salaris [7]. Cacing monogenean dengan panjang 0,5-0,8mm [2]. Cacing ini melekatkan diri dengan haptor yang dilengkapi dengan 2 jangkar (anchor) dan 16 kait tepi (marginal hook). Bersifat hermafrodit [3]. Gyrodactylus tidak memiliki bintik mata dan pada ujung kepalanya terdapat dua tonjolan [4]. Embrio parasite dapat terlihat di dalam uterus [6]. Spesies ikan, malnutrisi, bahan organik yang tinggi, fluktuasi kualitas air terutama suhu [4].
2. Gejala Klinis
Pernafasan meningkat dan produksi lendir berlebih [1]. Gyrodactylus memakan kulit dan mukus serta menyebabkan iritasi [9]. Warna kulit ikan menjadi semakin pucat. Bercak merah dan hitam terkadang terlihat pada permukaan tubuh. Infeksi berat menyebabkan respirasi dan osmoregulasi terganggu dan sisik lepas. Terlepasnya sisik akan menyebabkan masuknya infeksi sekunder bakteri atau cendawan. Kondisi ini diikuti dengan sirip yang menguncup dan kerontokan sirip ekor. Dampak dari infestasi parasite ini adalah pertumbuhan yang terganggu dan nafsu makan menurun. Ikan akan menunjukkan perubahan perilaku seperti berkumpul dekat inlet, menggosok-gosokkan tubuh pada benda di sekitarnya dan melompat. [3, 4]. Infestasi parasit ini dapat memicu infeksi sekunder bakteri dan jamur [9].
3. Pencegahan dan Pengendalian
Pencegahan dilakukan dengan pengelolaan air mengalir untuk menghindari infestasi dalam jumlah banyak. Disamping itu juga harus dilakukan pengurangan kepadatan [6]. Karena Gyrodactylus menghasilkan “anak”, satu kali penanganan saja sudah cukup [8]
Pengendalian dilakukan dengan cara [5]:
- Mempertahankan suhu >29oC
- Pemberian immunostimulan vitamin C secara rutin
- Mengurangi kadar bahan organik terlarut
- Meningkatkan frekuensi penggantian air
Referensi
[1] Supian, E. . Penanggulangan Hama & Penyakit pada Ikan: Solusi Budidaya Ikan yang Sehat dan Menguntungkan. Pustaka Baru Press: Yogyakarta.
[2] Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
[3] Afrianto, E., Evi Liviawaty, Zafran Jamaris, Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta Timur
[4] Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

















